MIGAS di Negara-ku lebih mahal dari pada Negara-mu?

Dirjen-Migas-Sinergi-Energi-di-Indonesia-Mahal

(http://www.aktual.com/dirjen-migas-sinergi-energi-di-indonesia-mahal/, dipetik tahun 2016, pukul 00.00 WIB, 31 Agustus)

 

Baru-baru ini saya menyaksikan sebuah diskusi menarik mengenai MIGAS di Indonesia. Negara Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu penting dan sangat banyak. Wajar saja bila kita meng-ekspor MIGAS ke negara-negara ASEAN. Tapi, bagaimana dengan harga Gas Indonesia yang termahal di ASEAN? Bagaimana pengaruhnya pada industri negara kita? Bagaimana pengaruhnya pada kebutuhan masyarakat untuk memperoleh gas dengan harga yang lebih murah? Apa yang bisa dilakukan pemerintah dalam membuat kebijakan baru untuk MIGAS? Apakah pemerintah memiliki ketakutan dalam menaikan harga MIGAS untuk para investor luar negeri?

Berita Metro TV “Prime Time” hari ini memukau saya untuk menuliskan sedikitnya pemahaman yang saya tangkap dari diskusi tersebut.

PRIME TIME METRO TV

Dalam diskusi tersebut ada pengamat minyak dan pengamat gas di Indonesia serta salah satu pengusahaa di industri tekstil Indonesia. Mohon maaf, saya tidak begitu mengingat nama mereka, tetapi yang begitu saya amati adalah permasalahan yang muncul dan dirasakan oleh perusahaan industri asal Indonesia.

Permasalahan:

  1. Terjadi kenaikan harga gas yang begitu meningkat mengakibatkan penurunan hasil industri. Hal ini yang ditakutkan ada sekita 3 juta pekerja yang tidak mendapat upah hasil kerja bila kenaikan harga gas terus meningkat. Perusahaan juga kesulitan untuk membeli gas yang melambung naik.
  2. Berikutnya adalah pemerintah belum menjalankan perannya kepada para pembeli dari negara luar untuk berani menaruh harga ekspor lebih tinggi.
  3. Kemunculan Broker dan Trader untuk melakukan penjualan MIGAS ke pengusaha dan merugikan industri MIGAS sendiri.
  4. Masih adanya ketergantungan impor MIGAS dari negara lain karena kurangnya infrastruktur MIGAS.

Dalam empat permasalahan yang saya rangkum tersebut terdapat pula penyelesaian yang bijak untuk dibawa ke pemerintahan agar segera memperbaiki hal ini. Terdapat solusi yang saling berkesinambungan satu sama lain. Dengan melakukan pertemuan antara para perusahaaan industri asli Indonesia dengan pemerintah yang bersangkutan diharapkan mendapatkan hasil dalam perencanaan kedepan. Para pengamat berpendapat bahwa Pemerintah harus berani menaikan harga jual untuk negara-negara ASEAN lainnya, justru MIGAS untuk negara sendiri harus diturunkan sekitar 30% menjadi 6-7 US$. Dengan demikian, para perusahaan industrial tidak akan mengalami gulung tikar, melainkan mereka akan meningkatkan penghasilannya dan pajaknya akan lebih besar (pajak 2%) pajak yang lebih ini akan membantu pemasukan dalam negeri. Pemerintah tidak perlu gusar karena takut para investor luar negeri akan kabur, sebenarnya harga yang dinaikan juga sangat seimbang dan tidak begitu besar. Di Indonesia diturunkan 30% dan di negara ASEAN lainnya dinaikan 10% – 20% dari harga sebelumnya.

Berikutnya harus ada aturan jelas untuk menghapus atau menggugat para broker dan trader yang melakukan kecurangan dalam jual-beli MIGAS Indonesia. Sampai saat ini pemerintah masih menganggap hal ini permasalahan yang kecil namun, tanpa disadari ada keuntungan yang begitu besar sehingga merugikan MIGAS dalam negeri. Sejak Juli 2015 terdapat perencanaan dari Hulu untuk mengurangi ketergantungan, bahkan menghilangkan impor migas. Ada sejumlah cara yang dilakukan mulai dari meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan migas eksisting yang dikelola perseroan, Pertamina juga tengah mengincar sejumlah lapangan minyak di dalam dan luar negeri. Tapi apakah semua ini sudah mulai berjalan? (Kenapa Indonesia Harus Impor dan Cari Migas ke Luar Negeri?)

Sangat diharapkan agar dibuatnya infrastruktur untuk pemasangan pipa gas di seluruh Indonesia, sehingga mempermudah penyaluran gas dan menekan harga produksi gas. Selain lebih mudah dan alat yang digunakan tidak terlampau mahal, mungkin diperlukan waktu 4 tahun dalam membuat infrastruktur yang baik untuk pipa gas ini. Mengapa ? karena melihat keadaan tanah di beberapa daerah di Indonesia yang berbahaya. Perencanaan ini harus segera dilakukan dan semoga mendapat restu dari pemerintah agar mempermudah proses menyaluran MIGAS di Indonesia.

Lalu sudahkan hal ini semua menjawab pertanyaan kita? Saya bukan seorang pengamat tetapi saya setuju dengan beberapa solusi yang disampaikan oleh para pengamat MIGAS. Saya hanya berharap pemerintah dan Presiden bisa segera membagii tugas untuk menjalankan solusi-solusi tersebut. Hal menarik yang dapat saya analisis adalah janji yang kerap disampaikan oleh bapak Presiden Jokowi belum dipenuhi untuk permasalahan MIGAS ini. Sekarang telah masuk MEA, apakah betul MEA membawa keuntungan untuk negara kita? Apakah benar bangsa Indonesia sudah siap? Kalau masalah penting seperti ini saja belum tuntas dan sudah memasuki akhir tahun, apakah ini disebut kompetisi antar negara atau membunuh negara sendiri?

Semua yang saya tulis berdasarkan hasil analisis diskusi acara Prime Time Metro TV dan pemikiran saya, tidak ada maksud untuk menyalahkan pemerintah maupun para pebisnis. Saya hanya mengajak teman-teman semua untuk berpikir bersama-sama apa yang harus kita persiapkan dan harus kita ketahui tentang isu-isu negara ini.

 

Salam,

Agatha Christie K.D

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s