Mari Kita Berandai-andai

Saat ini saya hanya akan mencurahkan isi hati saya. Saya lebih ke hati karena, isi otak saya sudah terlalu penuh dengan kata “skeptis” pada banyak hal di dunia ini. Saya sangat bahagia mendengar kata “If” ‘Seandainya” “Jika” ya..ya.. mari kita berandai-andai bahwa kita benar melihat dia yang begitu besar dan megah penuh dengan kuasannya. Mari kita bungkus daya imaginasi nakal kita “child like”, kretifitas yang tidak ada batasnya sampai usia tua. Saya terus mengandai-andai bahwa saya melihat “Tuhan” sampai saya merasakan ada sebuah kejadian yang menandakan kehadiran kuasannya. Entah alam ini bekerjasama menjadi mata-mata atas apa yang saya harapkan dan ku-ucapkan dalam doa, membentuk tangan yang meminta seakan saya pengemis kecil.

Andai saya terus mencari sosoknya maka, gila-lah saya. Untuk apa lagiku cari? tak perlu, saya sudah cukup tidak bisa menjelaskan seperti apa Tuhan-ku. Tapi, saya merasa dia melihatku. Saya tahu dia membaca tulisanku, saya menjadi percaya dan percaya karena dari hati. Ketenangan batin itu tidak ada yang bisa menggantikannya. Otak saya mungkin tidak pernah tenang. Tapi, saat batin ini tenang dengan melepaskan rasa percaya pada “Tuhan” ya.. kurasa itu cukup.

Ketika logika yang seksi ini terus mengais-ngais nafsu birahiku untuk bisa menggauli konsep “KETUHANAN” makan saya memutuskan untuk mengatakan “tidak” tolong.. jangan gabungkan logika “Science” dengan Logika “Ketuhanan” sudah ada banyak pembuktian dalam sejarah para peneliti menemukan hal ajaib setiap kali mereka menaruh pilar-pilar Tuhan dalam penelitiannya. Tolong.. pisahkan yang kalian ingin ketahui dalam sebuah penelitian dengan kata Tuhan. Penelitian diciptakan bukan untuk mengetahui kebenaran dan keberadaan Tuhan. Tapi, coba.. saya mohon.. lihatlah bahwa penelitian itu untuk membuka jalan “KEMANUSIAAN”. Ilmu yang kita baca seringkali membuat kita gila dan tak tahu lagi mana yang benar dan salah. Sampai tahap itu saya menjadi skeptis akan banyak hal. Tapi, saat itu pula saya mencari ketenangan batin secara spiritual.

Pencarian saya dimana Tuhan, seperti apa dia? sudah hampir 19 tahun. Bisa belajar dasar 5 agama yang diakui di Indonesia saat dibangku SMA saja saya sudah bersyukur. Semuanya mengajak pada kebaikan, walaupun menemukan keanehan yang tidak sesuai dengan logika tapi, ada kebaikan dan keburukan yang saling berdampingan. Seakan kontekstual itu hanya merupakan perjalanan sejarah.

Sampai saya mengikuti sebuah kelas malam dan saya pikir saya sendirian yang merasakan kegundahan dihati ini. Ternyata! Saya memiliki sosok wanita yang kuat yang lebih “Genius” dan membawa saya pada persetujuan untuk mengesampikan Tuhan-ku saat saya sedang melihat logika dalam science. Untuk para pemuka agama, semoga mengerti maksud ini. Bukan berarti kami tidak ada “faith”. Tapi, kami tahu Tuhan itu yang mendorong kami untuk terus berilmu. Tetapi, batin ini tahu pemiliknya.

 

By Agathackd, 1 July 2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s